Tipes, Ternyata Bisa Menyebabkan Kematian Waspadalah!

Perlu Sobat Mitoha waspadai ternyata tipes bisa menyebabkan kematian loh! Kok bisa? yuk mari kita ulas bersama. Sebelumnya kita ketahui dulu ya Sobat Mitoha apa itu tipes, gejala, penyebab dan cara pengobatannya.

Pengertian Tifus

Secara umum penyakit Tifus (tipes) atau demam tifoid adalah penyakit yang terjadi karena infeksi bakteri Salmonella typhi dan umumnya menyebar melalui makanan dan minuman yang telah terkontaminasi. Penyakit yang banyak terjadi di negara-negara berkembang dan dialami oleh anak-anak ini dapat membahayakan nyawa jika tidak ditangani dengan baik dan secepatnya.

Tifus dapat menular dengan cepat. Infeksi demam tifoid terjadi ketika seseorang mengonsumsi makanan atau minuman yang telah terkontaminasi sejumlah kecil tinja yang mengandung bakteri. Pada kasus yang jarang terjadi, penularan terjadi akibat terkena urine yang terinfeksi bakteri.

Dua Jenis Penyakit Demam Tinggi
Dalam dunia medis khususnya untuk orang awam, ada dua jenis penyakit demam tinggi yang punya gejala mirip, yaitu tipes dan demam berdarah (dbd). Kedua jenis penyakit yang ditandai dengan demam tinggi ini baru bisa dipastikan penyebabnya setelah setidaknya 3 hari untuk dilakukan tes darah.

Demam berdarah punya ciri khas kandungan trombosit saat cek darah, sedangkan sakit tipes bisa diidentifikasi dari kandungan leukosit dalam darah. Artikel kali ini khusus membahas tentang sakit tipes ini.

Penyakit tipes biasanya dipicu oleh daya tahan tubuh yang drop, makan tidak teratur, kurang istirahat sehingga membuat bakteri Salmonella typhi bisa tumbuh dan berkembang dalam saluran pencernaan kita. Bakteri ganas ini biasanya menyebar melalui makanan dan minuman yang sudah kotor.

Tipes ini penyakit yang unik karena penularan bakteri bisa terjadi walaupun orang yang menyebarkan bakteri tipes tidak menderita tipes. Penyakit penduduk negara berkembang ini setidaknya sudah menyerang sebanyak 800 hingga 100 ribu penduduk sepanjang tahun 2008.

Awal mula tipes mulai marak saat proses sanitasi tidak berjalan dengan baik yang biasanya terkait erat dengan masalah kesehatan yang serius di sebuah negara. Biasanya tipes menyerang usia dewasa, namun akibat memburuknya sanitasi sebuah wilayah, kini tipes juga bisa menyerang anak-anak. Tidak adanya imunisasi membuat belum sempurnanya sistem kekebalan tubuh mereka sehingga tipes bisa masuk ke anak-anak.

Gejala Tifus

Pada umumnya, masa inkubasi bakteri penyebab tifus (tipes) adalah 7-14 hari, namun juga bisa lebih pendek, yaitu tiga hari, atau bahkan 30 hari. Ini adalah durasi antara bakteri pertama memasuki jaringan tubuh sampai gejala pertama muncul.

Jika tidak ditangani dengan tepat, kondisi pengidap tifus dapat memburuk dalam beberapa minggu. Bahkan perlu waktu hingga bulanan sebelum tubuh dapat sepenuhnya pulih ditambah dengan meningkatnya risiko berkembangnya komplikasi. Gejala juga dapat muncul kembali karena tidak mendapat pengobatan.

Padahal jika dirawat dengan baik, kondisi pengidap bisa mulai membaik dalam 3-5 hari.

Berikut gejala yang umum terjadi begitu Anda terinfeksi:

  • Demam yang dapat meningkat secara bertahap tiap hari di minggu pertama. Demam biasanya meninggi pada malam hari
  • Otot terasa sakit
  • Sakit kepala
  • Merasa sakit atau tidak enak
  • Pembesaran ginjal dan hati
  • Kelelahan dan lemas
  • Berkeringat
  • Batuk kering
  • Penurunan berat badan
  • Sakit perut
  • Kehilangan nafsu makan
  • Anak-anak sering mengalami diare, sementara orang dewasa cenderung mengalami konstipasi
  • Muncul ruam pada kulit berupa bintik-bintik kecil berwarna merah muda
  • Linglung. Merasa tidak tahu sedang berada di mana dan apa yang sedang terjadi di sekitar dirinya

Penyebab Tifus

Bakteri penyebab tifus (tipes), Salmonella typhi, masuk ke usus melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi untuk kemudian berkembang biak di dalam saluran cerna. Demam tinggi, sakit perut, sembelit, atau diare akan timbul ketika bakteri ini telah berkembang biak.

Bakteri ini berkaitan, tapi tidak sama dengan bakteri salmonella yang menyebabkan seseorang keracunan makanan.

Sanitasi Buruk adalah Penyebab Utama Penularan

Tinja yang mengandung bakteri Salmonella typhi adalah sumber utama penularan tifus. Tinja ini diproduksi oleh orang yang lebih dulu telah terinfeksi. Di negara seperti Indonesia, persebaran bakteri Salmonella typhi biasanya terjadi melalui konsumsi air yang terkontaminasi tinja yang terinfeksi tersebut.

Dampak yang sama terjadi pada makanan yang dicuci dengan air yang terkontaminasi. Kondisi ini terutama disebabkan oleh buruknya sanitasi dan akses mendapatkan air bersih.

Bakteri ini juga dapat menyebar jika orang yang telah terinfeksi bakteri tidak mencuci tangan sebelum menyentuh atau mengolah makanan. Penyebaran bakteri terjadi ketika ada orang lain yang menyantap makanan yang tersentuh tangan pengidap.

Orang yang menyantap makanan olahan pengidap juga akan terinfeksi jika pengolah tidak mencuci tangannya setelah buang air kecil karena penularan juga dapat terjadi dari urine pengidap bakteri, meski cara ini memang lebih jarang terjadi.

Beberapa situasi berikut juga dapat menjadi penyebab penyebaran tifus

  • Mengonsumsi seafood dari air yang terkontaminasi urin dan tinja terinfeksi
  • Mengonsumsi seafooddari air yang terkontaminasi urine dan tinja terinfeksi
  • Mengonsumsi sayur-sayuran yang menggunakan pupuk yang terdiri dari kotoran manusia yang terinfeksi
  • Mengonsumsi produk susu yang telah terkontaminasi
  • Menggunakan toilet yang terkontaminasi bakteri. Anda akan terinfeksi jika menyentuh mulut sebelum mencuci tangan setelah buang air.
  • Melakukan seks oral dengan pembawa bakteri Salmonella typhi.

Jika tidak segera diobati, Salmonella typhi akan menyebar ke seluruh tubuh dengan memasuki pembuluh darah. Gejala tifus akan memburuk jika bakteri telah menyebar ke luar sistem pencernaan. Selain itu, bakteri yang menyebar dapat merusak organ dan jaringan dan menyebabkan komplikasi serius. Kondisi yang paling umum terjadi adalah pendarahan internal atau usus bocor.

Pengobatan Tifus

erapi antibiotik adalah cara paling efektif dalam menangani tifus dan harus diberikan sesegera mungkin. Sampel darah, tinja, dan urine Anda akan diperiksa di laboratorium untuk menentukan jenis antibiotik yang tepat untuk diberikan. Selain itu, obat penurun demam juga dapat diberikan untuk menurunkan suhu tubuh. Perawatan tifus (tipes) dapat dilakukan di rumah sakit, tapi jika lebih cepat terdeteksi dan gejala masih ringan, Anda dapat menjalani perawatan di rumah.

Pengobatan Tifus (Tipes) di Rumah Sakit

Antibiotik di rumah sakit akan diberikan dalam bentuk suntikan. Jika diperlukan, asupan cairan dan nutrisi juga akan dimasukkan ke dalam pembuluh darah melalui infus. Anda mungkin harus mengikuti pengobatan antibiotik hingga hasil tes terhadap tinja dan urin benar-benar bersih dari bakteri penyebab tifus .

Infus diberikan karena perawatan tifus yang dilakukan di rumah sakit umumnya diiringi muntah terus-menerus, diare parah, serta perut kembung. Infus berisi cairan diberikan untuk mencegah dehidrasi akibat gejala diare. Penderita anak yang mengalami demam tifus dapat direkomendasikan untuk melalui perawatan di rumah sakit sebagai tindak pencegahan.

Pada sebagian kecil kasus, operasi mungkin diperlukan jika terjadi komplikasi yang membahayakan nyawa, seperti pendarahan dalam atau rusaknya sistem pencernaan.

Hampir semua kondisi pengidap berangsur membaik setelah dirawat di rumah sakit selama 3-5 hari. Tubuh akan pulih dengan perlahan-lahan bahkan setelah berminggu-minggu pascainfeksi hingga Anda sepenuhnya pulih kembali.

Pengobatan Tifus (Tipes) di Rumah

Umumnya orang yang terdiagnosis tifus pada stadium awal membutuhkan 1-2 minggu pengobatan dengan tablet antibiotik yang diresepkan. Meski tubuh akan mulai membaik setelah 2-3 hari mengonsumsi antibiotik, sebaiknya jangan menghentikan konsumsi sebelum antibiotik habis. Ini penting untuk memastikan agar bakteri benar-benar hilang dari tubuh.

Meski begitu pemberian antibiotik untuk mengobati tifus mulai menimbulkan masalah tersendiri di negara-negara di Asia Tenggara. Beberapa kelompok Salmonella typhi menjadi kebal terhadap antibiotik. Beberapa tahun terakhir, bakteri ini juga menjadi kebal terhadap antibiotik golongan kloramfenikol, ampicillin dan trimotheprim-silfamethoxazole.

Segera konsultasikan dengan dokter jika kondisi Anda memburuk saat menjalani perawatan di rumah. Pada sebagian kecil pengidap, penyakit ini dapat saja kambuh lagi. Agar tubuh segera pulih dan mencegah risiko tifus datang lagi, pastikan Anda menjalani langkah-langkah sederhana berikut ini:

  • Istirahat cukup
  • Makan teratur. Anda dapat makan sesering mungkin dalam kadar sedikit dibandingkan jika makan dengan porsi besar sebanyak tiga kali sehari
  • Minum banyak air putih
  • Cuci tangan teratur dengan sabun dan air hangat untuk mengurangi risiko penyebaran infeksi

Bakteri Menetap dalam Tubuh

Beberapa orang yang telah pulih sudah tidak menunjukkan gejala-gejala tifus, namun mereka dapat tetap mengidap bakteri Salmonella typhi dalam saluran usus mereka selama bertahun-tahun. Sekitar 5 persen pengidap tifus yang tidak menjalani pengobatan yang cukup tetapi kemudian pulih, akan terus membawa bakteri ini di dalam tubuhnya. Tanpa mereka sadari, para pembawa ini bisa membuat orang lain terinfeksi melalui tinja mereka.

Umumnya orang-orang ini juga dapat segera kembali bekerja atau bersekolah. Namun beberapa profesi perlu mendapat perhatian khusus. Mereka disarankan untuk memastikan bahwa tubuhnya tidak lagi memiliki bakteri Salmonella typhi sebelum kembali ke aktivitas sehari-sehari. Profesi yang berisiko ini, antara lain:

  • Orang yang pekerjaannya berhubungan dengan pengolahan dan penyiapan makanan
  • Perawat yang sering berhadapan atau mengurus orang yang rentan sakit
  • Pengasuh balita atau perawat lansia

Pengobatan Tambahan Saat Tifus (Tipes) Kambuh

Sebagian orang mengalami gejala tifus yang kembali kambuh sepekan setelah pengobatan antibiotik selesai dijalani. Biasanya dokter akan kembali meresepkan antibiotik meski gejala-gejala yang dirasakan tidak separah sebelumnya.

Jika setelah menjalani pengobatan ternyata hasil tes tinja menemukan bahwa Anda masih mengidap bakteri Salmonella typhi, Anda mungkin akan disarankan untuk menjalani 28 hari pengobatan antibiotik kembali untuk membersihkan sisa-sisa bakteri. Ini untuk mengurangi potensi Anda menjadi pembawa bakteri tifus jangka panjang.

Sobat Mitoha mimin anjurkan konsumsi Mitoha Golden Gamat Jelly Gamat Emas

Selama Sobat masih terdiagnosis terinfeksi, sebaiknya hindari aktivitas mengolah makanan. Selain itu pastikan Sobat mencuci tangan setelah buang air.

Komplikasi Tifus

Sekitar 10 persen pengidap tifus (tipes) menderita komplikasi. Komplikasi terjadi ketika pengidap tifus terlambat atau tidak diobati dengan antibiotik yang tepat. Komplikasi terjadi rata-rata tiga minggu setelah infeksi. Komplikasi yang paling umum terjadi adalah sistem pencernaan yang mengalami pendarahan internal dan infeksi yang menyebar ke jaringan sekitarnya hingga mengakibatkan usus atau sistem pencernaan pecah.

Gejala Pendarahan Dalam
Pengidap tifus yang mengalami pendarahan dalam biasanya merasakan gejala-gejala seperti merasa lelah sepanjang waktu, sesak napas, muntah darah, kulit pucat, denyut jantung tidak teratur, dan tinja berwarna hitam pekat.

Umumnya pendarahan dalam akibat tifus tidak mengancam nyawa. Meski demikian, transfusi darah mungkin dibutuhkan untuk mengganti hilangnya darah dari tubuh. Operasi juga mungkin diperlukan untuk memperbaiki kerusakan pada daerah pendarahan.

Luka pada Dinding Sistem Pencernaan
Perforasi terjadi ketika dinding sistem pencernaan terluka dan sebuah lubang pun terbentuk sehingga isi sistem pencernaan dapat tertumpah ke rongga perut. Tidak seperti kulit, lapisan perut bernama peritoneum tidak memiliki mekanisme pertahanan untuk melawan infeksi. Maka nyawa pasien akan terancam ketika bakteri penyebab tifus menyebar hingga ke perut dan menginfeksi peritoneum. Kondisi ini dikenal sebagai peritonitis.

Peritonitis adalah penyakit yang gawat karena peritoneum biasanya steril dan bebas dari kuman. Dalam situasi ini, infeksi dapat menyebar dengan cepat melalui darah ke berbagai organ lainnya. Infeksi ini dapat mengakibatkan berbagai organ berhenti berfungsi, bahkan membawa kematian jika tidak segera ditangani.

Tanda utama perforasi adalah sakit perut yang tidak tertahankan. Gejala lain adalah infeksi dalam darah (sepsis), mual dan muntah. Di rumah sakit, pengidap peritonitis akan diobati dengan suntikan antibiotik sebelum dioperasi untuk menutup lubang pada dinding usus

Vaksinasi tifus (tipes) di Indonesia termasuk dalam jadwal imunisasi anak. Vaksinasi ini sangat dianjurkan untuk diberikan kepada anak berusia dua tahun untuk selanjutnya diulangi tiap tiga tahun sekali. Pemberian vaksin juga idealnya diberikan sebulan sebelum Anda berkunjung ke tempat yang merupakan endemi tifus.

Beberapa reaksi dan efek samping yang mungkin muncul dan dirasakan setelah pemberian vaksin tifus, yaitu:

  • Rasa sakit dan kemerahan atau bengkak di sekeliling area suntikan
  • Mual
  • Pusing
  • Sakit perut
  • Diare

Meski demikian, pemberian vaksin tifoid tidak membuat tiap orang yang divaksin menjadi 100 persen kebal terhadap bakteri ini. Risiko masih tetap ada, meski gejalanya tidak akan separah yang terjadi pada mereka yang belum divaksin.

Langkah Pencegahan Selain Vaksin

Terkait dengan negara-negara di Asia, termasuk Indonesia, adalah daerah endemi tifus. Penyakit ini umumnya terjadi di negara-negara dengan kebersihan dan sanitasi buruk. Selain Asia, negara-negara di Amerika Selatan dan Tengah, Timur Tengah, serta Afrika juga merupakan daerah dengan tingkat kasus tifus yang tinggi.

Sayangnya di negara-negara berkembang, penyakit ini tumbuh subur seiring meningginya tingkat resistensi bakteri terhadap antibiotik untuk mengobati tifus. Ini mengakibatkan beberapa antibiotik sudah tidak mampu melawan tifus. Diperlukan penyusunan dan penyebaran terhadap daftar obat-obatan yang sudah tidak efektif agar pasien mendapat pengobatan yang tepat.

Untuk mencegah penyakit ini, vaksinasi tifus harus dipadukan dengan perbaikan sanitasi dan penyediaan air bersih, serta kebiasaan hidup sehat.

Perhatikan hal-hal berikut ini untuk menghindari risiko tertular tifus:

  • Cuci tangan sebelum dan sesudah mengolah makanan dan minuman, serta setelah buang air atau membersihkan kotoran, misalnya saat mencuci popok kain. Gunakan hand-sanitizer jika tidak tersedia air untuk mencuci tangan
  • Jika Anda akan bepergian ke tempat yang memiliki kasus penyebaran tifus, sebaiknya pastikan air yang akan diminum sudah direbus dengan baik terlebih dulu
  • Jika harus membeli minuman, sebaiknya minum air dalam kemasan
  • Minimalkan konsumsi makanan yang dijual di pinggir jalan karena mudah terpapar bakteri
  • Hindari es batu dalam minuman Anda. Juga sebaiknya hindari membeli dan mengonsumsi es krim yang dijual di pinggir jalan.
  • Hindari konsumsi buah dan sayuran mentah, kecuali Anda mengupas atau mencucinya sendiri dengan air bersih.
  • Batasi konsumsi makanan boga bahari (seafood), terutama yang belum dimasak.
  • Sebaiknya gunakan air matang untuk menggosok gigi atau berkumur, terutama jika Anda sedang berada di tempat yang tidak terjamin kebersihan airnya.
  • Bersihkan toilet secara teratur. Hindari bertukar barang pribadi, seperti handuk, sprei, dan alat mandi. Cuci benda-benda tersebut secara terpisah di dalam air hangat.
  • Hindari konsumsi susu yang tidak terpasteurisasi.
  • Bawalah selalu antibiotik yang telah diresepkan dokter dan ikutilah petunjuk yang telah diberikan. Pengobatan antibiotik harus dilakukan hingga periode pengobatan berakhir untuk mencegah resistensi obat.

Mungkin Sobat Mitoha ada yang bertanya-tanya dalam hati, qodarullah kalo misalnya kena tipes, makanannya apa saja sih yang dianjurkan?

Makanan berkalori tinggi merupakan jenis makanan yang paling dianjurkan dan direkomendasikan, karena mampu diolah dengan cepat oleh tubuh menjadi energi sekaligus membantu berat badan agar tetap stabil.

Selain itu, konsumsi pula jenis makanan yang kaya protein dan berserat halus. Hindari makanan yang mengandung serat tinggi, makanan pedas, dan berlemak karena sulit dicerna dan dapat mengiritasi usus yang sudah meradang.

Makanan untuk penderita tipes agar sembuh lebih cepat: Bubur, Nasi, Kentang Tumbuk, Puding, Ikan, Telur, Dada Ayam, Pisang, Cranberry, Alpukat, Wortel, Buncis, Bayam, Cengkeh, Daun basil (bersifat antibiotik, kalo ada hehe), air kelapa, cuka apel, madu kurma.

Daftar makanan yang disebutkan di atas dapat dikelompokkan sebagai berikut:

– Sumber Karbohidrat Sederhana : 1-4
– Sumber Protein Berserat Halus : 5-7
– Buah-Buahan : 8 -10
– Sayuran : 11-13
– Rempah-Rempah 14 -15
– Minuman : 16 – 18

Begitu banyak bukan makanan dan minumam yang dapat dinikmati penderita tipes. Jadi, jangan menganggap penderita tipes hanya boleh makan bubur saja. Karena sebenarnya penderita tipes sah-sah saja mengonsumsi makanan di luar bubur.

Kuncinya konsumsi makanan berkalori tinggi, kaya akan protein yang berserat halus dan hindari sumber makanan berserat tinggi, makanan pedas dan makanan yang diolah dengan cara deep frying atau menggoreng dengan banyak minyak.


wuuiihhh… panjang bingit ya sobat 🙂 semoga manfaat ya, jangan lupa sedia Jelly Gamat Golden Mitoha untuk menjaga stamina dan daya tahan tubuh sobat, salam sehat!

Tipes, Ternyata Bisa Menyebabkan Kematian Waspadalah!

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*